Merokok Berkontribusi Hancurkan Enam Pohon Dalam Satu Tahun

Kegiatan Seminar Daring dalam memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang digelar Rumah Sakit Universitas Indonesia. INFOMASE FOTO: BHAKTI
Kegiatan Seminar Daring dalam memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang digelar Rumah Sakit Universitas Indonesia. INFOMASE FOTO: BHAKTI

 

INFOMASE, Depok: Perokok rata-rata menghancurkan enam pohon per tahun atau 352 pohon selama masa hidup mereka dan berkontribusi melepaskan 0,03066 ton CO2 per batang rokok.

Hal ini terungkap dalam seminar daring yang digelar RS Universitas Indonesia (RSUI) dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2022 dengan tema “Keren Tanpa Rokok, Jaga Bumi Kita dengan Berhenti Merokok”.

Tahun 2020, Indonesia menduduki peringkat ke-6 sebagai produsen tembakau. Tanaman ini memiliki racun yang bekerja lambat, tersembunyi, dan berbahaya.

Tembakau dapat menimbulkan berbagai macam penyakit seperti jantung, stroke, kanker mulut, kanker serviks, kanker tenggorokan, hingga kematian janin. Ironisnya, sebagian besar perokok berusia remaja. Hal ini erat kaitannya dengan banyaknya industri rokok yang melakukan promosi di lingkungan sekolah, taman bermain, dan tempat umum lainnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik, Tahun 2020 presentase perokok pada penduduk usia lebih dari 15 tahun adalah 28,69%, naik menjadi 28,96% pada tahun 2021. Padahal, Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yaitu ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memperoduksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan produk tembakau sudah digalakkan di berbagai lapisan masyarakat.

Oleh karena itu, perlu dilaksanakan sosialisasi, edukasi, dan informasi secara berkala dan terus menerus tentang dampak negatif dari rokok dan produk tembakau lainnya.

Direktur Umum dan Operasional Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Hermawan mengatakan, merokok memiliki kaitan yang erat dengan berbagai penyakit tertentu, salah satunya penyakit kardiovaskular. Merokok menjadi faktor risiko utama terjadinya angka kesakitan dan kematian jantung koroner.

Selain itu, risiko lain yang dapat muncul yakni penyakit keganasan, seperti penyakit keganasan yang berkaitan dengan saluran pernapasan. Hal yang tak kalah pentingnya, risiko dari merokok juga dapat menghambat pertumbuhan janin.

“Dengan kondisi tanpa kontaminasi rokok angka stunting di Indonesia sudah sangat tinggi, apalagi ditambah dengan ibu-ibu yang terkontaminasi oleh rokok dan asap rokok, dikhawatirkan bisa meningkatkan angka stunting,” papar Hermawan dalam siaran pers Humas RSUI yang diterima redaksi Infomase.id, Kamis (2/6).

Dia juga menghimbau kepada seluruh perokok aktif, bahwa dampak rokok bukan hanya terhadap dirinya sendiri ataupun kesehatannya, namun juga berdampak kepada orang lain (perokok pasif) dan juga lingkungan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Mary Liziawati memaparkan, jika tidak ada tembakau, berarti lebih sedikit mikroplastik dan racun yang dapat meracuni lautan kita dan lebih sedikit yang merusak kesehatan. (BH)