Aktual – Tepercaya

Metode Skrining HIV Mandiri melalui Oral Fluid Test Mampu Tingkatkan Temuan Kasus Baru

Kegiatan Media Briefing yang digelar Jaringan Indonesia Positif (JIP) di Swiss-belhotel, Bogor Jumat (17/3). Foto INFOMASE: BHAKTI
Kegiatan Media Briefing yang digelar Jaringan Indonesia Positif (JIP) di Swiss-belhotel, Bogor Jumat (17/3). Foto INFOMASE: BHAKTI

INFOMASE, Bogor: Kementerian Kesehatan terus mendorong peningkatan angka temuan kasus baru HIV/AIDS. Salah satunya dilakukan melalui skrining HIV berbasis komunitas atau Community Based Screening (CBS) yakni Skrining HIV Mandiri melalui cairan air liur atau disebut oral fluid test (OFT).

Pengembangan strategi dalam meningkatkan temuan ini termaktub dalam kebijakan terbaru Kemenkes yakni Peraturan Menteri Kesehatan
(PMK) Nomor 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan HIV, AIDS dan Infeksi Menular Seksual.

-->

Dipaparkan oleh I Made Adi Mantara selaku Divisi Legal Jaringan Indonesia Positif (JIP), CBS merupakan skema awal yang dapat dijalani oleh kelompok berisiko untuk mengetahui status HIV. Meski demikian tetap harus dilakukan tes konfirmasi diagnosa dengan memeriksakan diri di layanan kesehatan.

Skema ini diprioritaskan bagi kelompok beresiko yang kesulitan mengakses layanan kesehatan karena terkendala faktor jarak, keterbatasan
waktu, biaya tranportasi dan psikososial.

Tatalaksana CBS dilakukan dengan prosedur tertentu yang dipandu oleh penjangkau atau pendamping yang terlatih sehingga pelaksanaan CBS tetap terpantau dan terjamin akurasi serta kualitasnya.

“Prosedur CBS harus ada pendampingan. Bisa secara Mandiri dengan pengawasan online melalui video call. Sebelum dites harus puasa selama 30 menit. Pengambilan cairan air liur dilakukan dengan pengusapan di gusi atas atau bawah,”tutur Adi Mantara di Swiss-belhotel dalam kegiatan Media Briefing, Jumat (17/3).

Diungkap Adi Mantara, strategi CBS ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam membongkar fenomena gunung es kasus HIV di Indonesia. Deteksi dini penting dilakukan bagi kelompok berisiko, ibu hamil, dan warga binaan lembaga pemasyarakatan

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kasus HIV per Juni 2022 telah ditemukan sebanyak 519.158
orang. Diketahui bahwa komitmen yang dicanangkan oleh pemerintah bersama negara-negara lain di tingkat global adalah minimal 95 persen dari perkiraan orang dengan HIV akan mengetahui status HIVnya pada 2030.

“Indonesia belum mampu mencapai target tersebut. Oleh karena itu CBS dilakukan sebagai salah satu strategi dalam meningkatkan temuan kasus baru HIV,”kata Adi Mantara.

Komitmen JIP
Sementara itu, Jaringan Indonesia Positif (JIP) yang mendapat dukungan dari USAID melalui kegiatan Advocate for Health terus mendorong agar upaya penerapan skema CBS ini dapat diimplementasikan secara maksimal.

“Kami melakukan pendekatan ke komunitas, organisasi pelaksana CBS,
penyedia layanan kesehatan termasuk dengan pemerintah selaku pemegang kebijakan dalam hal ini Dinas Kesehatan,”kata Timotius Hadi selaku Advocacy Specialist JIP.

Pelaksanaan skema CBS ini, lanjut Hadi, melibatkan lintas sektor terkait dari organisasi yang menyebarkan alat tes dan juga layanan kesehatan yang akan menerima tes konfirmasi (lanjutan).

“Kami terus membangun koordinasi dengan sektor terkait, untuk dapat memastikan ini dilakukan sesuai prosedur, kepastian logistik dan juga
kesiapan komunitas. Kami tidak bekerja sendiri, kami bekerjasama dengan organisasi komunitas, organisasi pelaksana dan juga dengan penyedia layanan,”tutur Hadi. (BH)

Reaksi anda terhadap berita ini :
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0