Serius Dalami Tentang UFO, NASA Sampai Luncurkan Studi Berbiaya Rp1,5 Miliar!

Ilustrasi UFO. INFOMASE FOTO: Beaumont Entrerprise
Ilustrasi UFO. INFOMASE FOTO: Beaumont Entrerprise

 

INFOMASE, Amerika Serikat: Sebagian orang masih beranggapan bahwa unidentified flying object (UFO) hanyalah fantasi atau khayalan semata. Namun tidak demikian rupanya dengan Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA.

Demi mempelajaritentang UFO, NASA mengumumkan telah meluncurkan studi mengenai atau benda terbang tak dikenal itu. Tak tanggung-tanggung biaya sebesar 100 ribu dollar atau setara Rp1,5 Miliar dikucurkan NASA untuk studi ini.

Dalam studi tersebut dilakukan dengan membentuk tim independen yang akan memulai kerja pada pada musim gugur tahun ini selama sembilan bulan kedepan.

Kepala misi sains NASA Thomas Zurbuchen mengakui mungkin banyak pihak seperti komunitas ilmiah tradisional yang akan melihat NASA berusaha “menjual” dengan menyelidiki topik kontroversial. Tapi dia menegaskan bahwa itu tidaklah benar.

“Kami tidak menghindar dari risiko reputasi. Keyakinan kuat kami adalah bahwa tantangan terbesar dari fenomena ini adalah bahwa ini bidang yang miskin data,” ujar Zurbuchen, diolah dari berbagai sumber, Jumat (10/6).

NASA menganggap ini sebagai langkah pertama untuk mencoba menjelaskan penampakan misterius di langit yang dikenal sebagai unidentified aerial phenomena (UAP) atau fenomena udara yang tidak dikenal.

Para ahli yang terlibat dalam penelitian ini akan menggali data yang relevan dari penampakan fenomena udara tak dikenal (UAP). Mencari cara terbaik untuk merekam UAP semacam itu di masa mendatang; dan menentukan bagaimana NASA dapat menggunakan informasi baru untuk meningkatkan pemahaman ilmiah tentang objek misterius tersebut.

NASA mengatakan tim tersebut akan dipimpin oleh astrofisikawan David Spergel. Dalam sebuah konferensi pers, Spergel mengatakan satu-satunya prasangka yang masuk ke dalam penelitian ini adalah bahwa UAP kemungkinan akan memiliki banyak penjelasan.

“Saya menghabiskan sebagian besar karir saya sebagai ahli kosmologi. Saya dapat memberitahu Anda bahwa kita tidak tahu apa yang membentuk 95 persen dari alam semesta. Jadi ada hal-hal yang kita tidak mengerti,” ujar Spergel.

“Mengingat kurangnya pengamatan, tugas pertama kami hanyalah mengumpulkan kumpulan data paling kuat yang kami bisa. Kami akan mengidentifikasi data apa saja yang ada, dari warga sipil, pemerintah, organisasi nirlaba, dan perusahaan, yang harus kami kumpulkan kemudian mencari cara terbaik untuk menganalisisnya,” papar Spergel. (BH)

 

Reaksi anda terhadap berita ini :
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0